Tantangan Para Pelaku Pantun, Puisi, Sajak, Penulis Novel Jaman Modern!
Era of Identity
Bagi Orang Tertentu, Uang Mungkin bukan sasaran utama dalam hidup,
sepanjang dia masih bisa menghidupi dirinya secara sederhana, dia tetaplah
sederhana dengan mimpi yang sederhana pula, yaitu tetap eksis di jaman modern,
lewat puisinya, sajak atau pantun yang dibuat oleh mereka sendiri. Siapa-siapa
saja mereka, yang mampu eksis dijaman sekarang lewat tulisan mereka, wah kalau
disebut satu persatu mungkin tidak muat dalam kolom pembahasan kali ini. Mereka
adalah orang-orang hebat saya memang tidak tahu mereka sekaya apa lewat karya
mereka tetapi mereka cukup terkenal sekali walau kebanyakan mereka telah tiada
(almarhum) seperti Pramoedya Ananta Toer, Abdul Muis, Ismail Marzuki, dan lain
sebagainya. Keunggulan tulisan mereka dalam puisi ataupun novel cukup menarik
dan cukup mengkritik dan mereka juga tidak lupa mencibir kesenjangan sosial
yang terjadi kala mereka hidup dibawah pemerintahan yang otoriter jaman orde
lama. Dan banyak sekali tersirat dalam puisi para pujangga tentang gejala
kesenjangan tersebut, pemberontakan, penistaan, pelarian diri, penghianatan,
pertikaian, dan pemakzulan dan banyak sekali hal-hal yang mereka protes dan
mereka lantunkan lewat syair mereka. Keberanian mereka memang cukup diacungin
jempol. Di era jaman sekarang cukup sulit untuk menemukan orang-orang yang
terkenal seperti itu dalam hasil karya mereka, paling kalau anda sering membaca
kompas kolom puisi mungkin merekalah segelintir orang yang berusaha membuat
eksis karya sastra dan berusaha menghidupi hidup mereka secara sederhana dan
bisa makan lewat hasil karya sastra tersebut. Sebenarnya cukup banyak para
pemuda jaman sekarang yang bisa dibilang penikmat sastra, penikmat novel, dan
penikmat puisi. Akan tetapi pelaku atau orang yang menjadi model cukup sulit
juga ditemukan. Mereka tidak benar-benar hidup dari sastra atau mereka hanya
sekedar artis atau seniman seperti Iwan Fals, jikapun terkenal lewat lagu,
mereka tidak bisa dikategorikan seorang sastrawan. Maksud Penulis tidaklah
mengada-ada, tantangan membuat sebuah tulisan yang sederhana dan indah pun
cukup sulit untuk dibuat, kita harus belajar banyak atau minimal membaca banyak
tentang karya sastrawan, menguasai tata bahasa yang baik dan benar, belajar dari
tentor atau guru sastra, menguasai citra seni ataupun peribahasa dan anekdote
yang banyak, mengembangkan ide dan kreasi setiap hari dan banyak sekali
peristiwa yang bisa dikisahkan menjadi sebuah narasai ataupun cerita pendek misalnya.
Tampaknya cikal bakal lahirnya sastrawan masa depan akan susah ditemukan. Maka
Teman-teman sekalian pecinta sastra, mari kita tingkatkan gaya dan cara
penulisan kita, setidaknya membuatnya sebagai hobi, yah seperti yang saya
lakukan sekarang ini. Gaya bahasa tulisan saya cukup amburadul, tetapi tetap
saja saya menuliskannya setiap bulan dengan metode saya sendiri. Justru malah
cukup senang juga membaca karya teman-teman penggila sastra seperti senior saya
John Ferry Sihotang dalam blognya https://johnferrysihotang.wordpress.com/, dan
sangat ingin belajar juga kepada senior saya cara penulisan yang baik dan benar
dari kakanda Confrater Sihol P. Siagian. Dan banyak teman-teman lain seperti
Senior saya yang lain Lusius Sinurat dalam rubrik perpolitikannya di http://www.lusius-sinurat.com/,
yang berusaha mengukir nama dengan hasil karya sastra yang pas pasan. Walau
belum sejauh yang kita harapkan, kita tetap harus dukung. Mari Saudara
berkarya! Tunjukin Hasil Karya sastra lu! This is the era of identity, show
your passion! And give your best shot!
Komentar
Posting Komentar